Darwin Mahesa: Garap Film ‘Tirtayasa the Sultan of Banten’

/
0 Comments
KOTA SERANG, biem.co -- Kremov Pictures adalah komunitas film di Provinsi Banten yang terus produktif membuat karya-karya film bertema kebudayaan, pariwisata bahkan kesejarahan. Tema-tema film tersebut dikemas dengan baik dan menarik, sehingga tidak heran mendapat respon positif dari semua kalangan.

Kali ini, setelah melalui proses seleksi panjang oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta bersaing dengan ratusan komunitas dan pegiat film sejarah di Indonesia, Kremov Pictures terpilih sebagai komunitas film yang menerima bantuan Fasilitasi Pembuatan Film Sejarah bersama 14 komunitas lainnya.

Dalam garapan film yang diberi judul “Tirtayasa the Sultan of Banten” ini, Kremov Pictures mengambil konsep yang berani dan berbeda dibanding dengan peserta komunitas terpilih lain.

“Jadi, di film Tirtayasa ini konsepnya drama dokumenter, gabungan antara fiksi dan film dokumenter. Nantinya, film ini akan menjadi bahan ajar anak SMA di bidang Sejarah dan akan didistribusikan ke seluruh Indonesia,” terang Darwin Mahesa, CEO & Director Kremov Pictures, saat berkunjung ke biem.co, Kamis (08/09).

Proses pembuatan film ini, diharuskan rampung dalam kurun waktu 4 bulan ke depan, mulai Juli 2017 ini. Deadline paling lambat sampai Oktober, karena di 11 November harus sudah me-launching filmnya.

“Agustus kita harus sudah mulai syuting. Ya, walaupun waktunya sedikit, kita nggak mau terburu-buru dalam proses pembuatan film ini. Karena, seperti kita ketahui bersama bahwa Tirtayasa ini adalah sosok besar di Banten, tentu kita ingin mendapatkan hasil yang maksimal.

Sebetulnya, sejak 2014, kata Darwin, setelah menggarap film “Ki Wasyid”, saya ingin membuat film tentang Kesultanan Banten, tapi karena berbagai hal, baik anggaran dana dan proses yang panjang, jadi rasanya keinginan itu sukar untuk diwujudkan.

“Ternyata, alhamdulillah, melalui kesempatan ini keinginan itu bisa terlaksana,” seru Darwin, penuh semangat.

Soal peristiwa yang diangkat, lanjut Darwin, setelah kita menelaah dari berbagai sumber, diputuskan bahwa konflik yang terjadi antara Sultan Haji dan Sultan Ageng Tirtayasa menjadi peristiwa yang menarik dalam garapan film ini.

“Peristiwa konflik ini dipilih, karena merupakan sejarah besar di Banten. Durasi film ini maksimal 24 menit, karena masuk dalam film pendek,” tandas Darwin.

Untuk pemeran utama, imbuh Darwin, kita masih berkoordinasi dengan pihak kemendikbud, rencananya kita ingin menggunakan pemeran ternama, sementara untuk pendukung bisa dari lokal.

“Sekarang kita sedang fokus pada penulisan naskah skenario. Ada beberapa penulis yang terlibat dalam proses ini. Nantinya, naskah itu akan kita bedah dengan ahli sejarah dan lainnya,” kata Darwin.

Tantangan yang paling berat dalam penggarapan film ini adalah soal setting lokasi, di antaranya kita harus menghidupkan Pelabuhan Banten.

“Ada satu setting yang paling berat, yaitu menghidupkan Pelabuhan Banten seperti abad ke-16. Selain itu, juga harus menggambarkan Istana Surosowan, mengingat nggak ada satu pun sumber yang menunjukkan gambaran yang jelas,” terang Darwin.

Initinya, lanjut Darwin, kita tidak melenceng dari fakta sejarah, tidak terlalu dibuat-buat. Meski dengan tanpa didramatisir pun, ceritanya sudah benar-benar cukup berdrama. “Ini menariknya mengangkat Tirtayasa”, tukasnya.

Untuk soal pemeran utama, kita belum memutuskan, karena soal wajah Sultan Ageng Tirtayasa masih dalam pembahasan, karena cukup banyak versi.

Namun demikian, dengan berbagai kendala dan tantangan yang ada, seru Darwin, Kremov Pictures, sangat optimis untuk menggarap film ini.

“Tentu, ini kesempatan untuk berkarya bagi Kremov Pictures. Dengan 25 orang, kita yakin sanggup merampungkan karya ke-21 Kremov Pictures ini,” tandasnya.

Sedikit bocoran, dalam film tersebut akan ada adegan pembakaran Keraton Kaibon dan peperangan berkuda.

Meskipun film ini nantinya akan menjadi bahan ajar bagi siswa sekolah, namun kita berharap melalui film ini masyarakat bisa mengetahui sejarah Banten dan dapat mengambil pesan moral di dalamnya, di antaranya soal perlawanan seorang anak terhadap ayahnya, yang pada akhirnya mendapat akibat dari perbuatannya itu. 

Diketahui, berbagai pihak akan dilibatkan dalam proses pendalaman informasi dan penelitian film ini, seperti Ahli sejarah BPCB, Lab. Bantenologi, Arsip Nasional, dan keluarga Kesultanan Banten. (red)


You may also like

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

About me