KLIK VIDEO @ YOUTUBE:


TIRTAYASA - THE SULTAN OF BANTEN PRIVATE PREMIERE 21 NOVEMBER 2017 STUDIO 1 - XXI CILEGON Presented by Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia With KREMOV PICTURES SINOPSIS SINGKAT: Puncak kejayaan Kesultanan Banten dahulu berhasil direngkuh di bawah kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Sebagaimana pepatah lama mengatakan, semakin tinggi pohon bertumbuh, semakin kuat pula angin yang menerpa tubuh. Pun dengan Kerajaan ini. Satu per satu rintangan dan musuh berdatangan, bukan saja dari luar namun dari dalam. Seperti yang dilakukan Sultan Haji. Siapa sangka, ia meramu siasat dengan Kapten Tack, kompeni Belanda yang licik dan penuh tipu muslihat. Kapten Tack bersama VOC berulah dengan memblokade perairan teluk Banten, sehingga para pedagang dari mancanegara kesulitan untuk masuk ke pelabuhan, ia hendak membangun kerja sama untuk memonopoli perdagangan. Tentu saja Sultan Ageng Tirtayasa menentangnya karena itu akan berpengaruh buruk pada perekonomian di Banten. Lantas apa yang kemudian Kapten Tack lakukan? Akankah Sultan Haji dijadikan senjatanya untuk mengadu domba? Saksikan selengkapnya. SHORT SYNOPSIS: The top of the Sultanate of Banten’s glory was achieved during Sultan Ageng Tirtayasa’s period. As the saying was the higher the tree is, the stronger is the wind. It was exactly like this kingdom. One by one the obstacles and enemies came not only from outside but also from inside, such as what Sultan Haji had done toward this kingdom. Who knows that he would make a scheme together with Captain Tack, One of Dutch Company who was very tricky and evil? Captain Tack together with VOC made a mess by blocking Banten bay in order to get a cooperation permit to monopolize the trade. As the result, all of the traders from the other countries were hard to enter the harbor. So, what did Captain Tack do next? Would Sultan Haji be his weapon to pit up against his father? See more… C A S T KRISNA MURTI WIBOWO as Sultan Ageng Tirtayasa CLAUDIO HERNAN MARTINAZ G as Kapten Tack DAMANIK CAHYA TAUFIK as Sultan Haji TUBAGUS DIAN KURNIAWAN as Pangeran Purbaya OPICK JENGGOT as Syekh Yusuf SELVY KANESYA as Permaisyuri ADE WAHYU as Mangkubumi1 ANDI SETO as Mangkubumi2 ALFAUZI SALAM as Mangkubumi3 PAWEL NOWAKOWSKI as Kompeni1 ALVIN CHARISMA as kompeni2 AHMAD MURSANI as Punggawa1 TB. M. SAIFULLAH AL’JAREXSA as Punggawa2 ANUGRAH RANGGA as Punggawa3 RYAN EWOK DUA as Punggawa4 SURYANI SIHOMBING as Wanita Hamil TIO RIDA HUTAPEA as Ibu R. SATRIA ARDANA as Anak Kecil Dr. Helmy Faizi Bahrul Ulumi, M. Hum. Narasumber1 Sultan RTb. H. Bambang Wisanggeni S. Narasumber2 C R E W Producer & Director DARWIN MAHESA Ass. Producer FAIZA AULIA KAMILA Ass. Director DWI WORO ANGGRAENI Camera Person IKBAL FADILLAH Music Director TYA SUBIAKTO Music Producer CANDY SATRIO Sound Designer YUDHISTIRA KUSUMA Boomer YUSRIL KHOLILI Sound Recordist DELLA TENIA PUTRA Scriptwritter ADE UBAIDIL Script Supervisor IMAN IMONK ABAH YADI Art Director TB. M. SAIFULLAH AL’JAREXSA Set Decoration AHMAD MURSANI Lighting IBNU CHALIS MAULANA - ADI BIMA - ALVIN Drone Operator RIZKI FATULLAH Behind The Scene Video CEPI HERMAWAN Behind The Scene Photo RYAN HARDEANTO Props Builder DEDE ARY - MUHAMAD ANWAR Set Dresser RIAN EWOK DUA Make-up RISKA ARINI Wardrobe FERLY FITRI UTAMI Supervisor Wardrobe DIAN ANGGRAENI Editor offline DARWIN MAHESA Editor online DILFIANDI RABEG Catering services NADIA WATI - RIA ISLAMIYAH Driver - RYAN HARDEANTO - IBNU CHALIS MAULANA Asscam and Equipment SITI ILMA AFIAH Sultanate Coordinator WIDYANINGSIH BUDIHARTANTI -- Original Soundtrack Title song: TIRTAYASA Performed by ANDIEN TYAS Composed by DARWIN MAHESA Arranged by YUDHISTIRA KUSUMA Choir by VOCAL GROUP UIN BANTEN GOODLUCK STUDIOS CILEGON www.kremovpictures.com

KOTA SERANG, biem.co -- Kremov Pictures adalah komunitas film di Provinsi Banten yang terus produktif membuat karya-karya film bertema kebudayaan, pariwisata bahkan kesejarahan. Tema-tema film tersebut dikemas dengan baik dan menarik, sehingga tidak heran mendapat respon positif dari semua kalangan.

Kali ini, setelah melalui proses seleksi panjang oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta bersaing dengan ratusan komunitas dan pegiat film sejarah di Indonesia, Kremov Pictures terpilih sebagai komunitas film yang menerima bantuan Fasilitasi Pembuatan Film Sejarah bersama 14 komunitas lainnya.

Dalam garapan film yang diberi judul “Tirtayasa the Sultan of Banten” ini, Kremov Pictures mengambil konsep yang berani dan berbeda dibanding dengan peserta komunitas terpilih lain.

“Jadi, di film Tirtayasa ini konsepnya drama dokumenter, gabungan antara fiksi dan film dokumenter. Nantinya, film ini akan menjadi bahan ajar anak SMA di bidang Sejarah dan akan didistribusikan ke seluruh Indonesia,” terang Darwin Mahesa, CEO & Director Kremov Pictures, saat berkunjung ke biem.co, Kamis (08/09).

Proses pembuatan film ini, diharuskan rampung dalam kurun waktu 4 bulan ke depan, mulai Juli 2017 ini. Deadline paling lambat sampai Oktober, karena di 11 November harus sudah me-launching filmnya.

“Agustus kita harus sudah mulai syuting. Ya, walaupun waktunya sedikit, kita nggak mau terburu-buru dalam proses pembuatan film ini. Karena, seperti kita ketahui bersama bahwa Tirtayasa ini adalah sosok besar di Banten, tentu kita ingin mendapatkan hasil yang maksimal.

Sebetulnya, sejak 2014, kata Darwin, setelah menggarap film “Ki Wasyid”, saya ingin membuat film tentang Kesultanan Banten, tapi karena berbagai hal, baik anggaran dana dan proses yang panjang, jadi rasanya keinginan itu sukar untuk diwujudkan.

“Ternyata, alhamdulillah, melalui kesempatan ini keinginan itu bisa terlaksana,” seru Darwin, penuh semangat.

Soal peristiwa yang diangkat, lanjut Darwin, setelah kita menelaah dari berbagai sumber, diputuskan bahwa konflik yang terjadi antara Sultan Haji dan Sultan Ageng Tirtayasa menjadi peristiwa yang menarik dalam garapan film ini.

“Peristiwa konflik ini dipilih, karena merupakan sejarah besar di Banten. Durasi film ini maksimal 24 menit, karena masuk dalam film pendek,” tandas Darwin.

Untuk pemeran utama, imbuh Darwin, kita masih berkoordinasi dengan pihak kemendikbud, rencananya kita ingin menggunakan pemeran ternama, sementara untuk pendukung bisa dari lokal.

“Sekarang kita sedang fokus pada penulisan naskah skenario. Ada beberapa penulis yang terlibat dalam proses ini. Nantinya, naskah itu akan kita bedah dengan ahli sejarah dan lainnya,” kata Darwin.

Tantangan yang paling berat dalam penggarapan film ini adalah soal setting lokasi, di antaranya kita harus menghidupkan Pelabuhan Banten.

“Ada satu setting yang paling berat, yaitu menghidupkan Pelabuhan Banten seperti abad ke-16. Selain itu, juga harus menggambarkan Istana Surosowan, mengingat nggak ada satu pun sumber yang menunjukkan gambaran yang jelas,” terang Darwin.

Initinya, lanjut Darwin, kita tidak melenceng dari fakta sejarah, tidak terlalu dibuat-buat. Meski dengan tanpa didramatisir pun, ceritanya sudah benar-benar cukup berdrama. “Ini menariknya mengangkat Tirtayasa”, tukasnya.

Untuk soal pemeran utama, kita belum memutuskan, karena soal wajah Sultan Ageng Tirtayasa masih dalam pembahasan, karena cukup banyak versi.

Namun demikian, dengan berbagai kendala dan tantangan yang ada, seru Darwin, Kremov Pictures, sangat optimis untuk menggarap film ini.

“Tentu, ini kesempatan untuk berkarya bagi Kremov Pictures. Dengan 25 orang, kita yakin sanggup merampungkan karya ke-21 Kremov Pictures ini,” tandasnya.

Sedikit bocoran, dalam film tersebut akan ada adegan pembakaran Keraton Kaibon dan peperangan berkuda.

Meskipun film ini nantinya akan menjadi bahan ajar bagi siswa sekolah, namun kita berharap melalui film ini masyarakat bisa mengetahui sejarah Banten dan dapat mengambil pesan moral di dalamnya, di antaranya soal perlawanan seorang anak terhadap ayahnya, yang pada akhirnya mendapat akibat dari perbuatannya itu. 

Diketahui, berbagai pihak akan dilibatkan dalam proses pendalaman informasi dan penelitian film ini, seperti Ahli sejarah BPCB, Lab. Bantenologi, Arsip Nasional, dan keluarga Kesultanan Banten. (red)
Darwin Mahesa saat malam di Wellington

DARWIN MAHESA :

I am thankful for getting this appreciation, from Ministry education and Culture of Indonesia, to be able study and look for experience in New Zealand. This Program with the theme Culture Activist which was selected from 1100 applicant into 60 contestant that were consisted into 7 catagories [dancing, music, film, theater, visual art, gallery, museum and historian], gave me and 4 others filmmakers of Indonesian a chance to go to New Zealand. Film category was given to 5 people that had been selected.

I say really thank you to Ministry of education and culture of Indonesia for making this great program and New Zealand becomes destination country, as we know that New Zealand is famous country that is usually used, for shooting great films such as The Lord of The Ring, The Hobbit and the other Hollywood films. It’s really awesome. 

This program becomes my big motivation to dig more knowledge and experience with filmmakers of New Zealand. Then, when I come back to Indonesia I can produce films with local wisdom theme better that can go international. Because of showing Indonesia films to international like Hollywood, is my big dream.

TRAILER:


FULL VERSION:



Edited by Kremov Pictures
www.kremovpictures.com / www.darwinmahesa.comkremovpictures@yahoo.com / darwinmahesa.dm@gmail.com


Darwin Mahesa saat di Hobbiton Movie Set

Diberdayakan oleh Blogger.

About me